Tampilkan postingan dengan label motivasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label motivasi. Tampilkan semua postingan

Sebuah Kisah Perjalanan Menempuh Kuliah



Pertolongan Allah itu tak terkira datangnya!

PERNAH membayangkan bisa duduk sebagai salah satu mahasiswa di sebuah PTN ternama? Mungkin ada yang pernah, atau mungkin juga ada yang masih ragu. Sama kawan! Aku pun pernah mengalaminya, ketika aku pun tak pernah bermimpi menjadi seorang Mahasiswa PTN terlebih tanpa harus mengeluarkan biaya satu rupiah pun. Kemampuan akademikku pas-pasan kawan, bahkan saat di bangku sekolah menengah aku hanya sekali duduk di jajaran siswa 5 besar. Tapi, ketika pertolongan Allah datang!! Hmm, SUBHANALLAH luar biasa nikmatnya! Menembus batas keterbatasan dengan sebuah energi dari Sang Maha Pemberi Energi, dialah Allah penjawab segala keterbatasan hamba-Nya.

Ya kira-kira begitulah awal kisahku, mimpi seorang siswa sekolah teknik yang bermimpi masuk Fakultas Psikologi. “Banting stir pak, dari jurusan Teknik Informatika ke Psikologi Komputerisasi!” jawabku singkat sambil menahan tawa. Mana ada Prodi Psikologi Komputerisasi! Hahaa

Berawal dari sebuah niat yang tak lagi terbendung, saking hebatnya teman-teman sekelasku berhasil membuatku mabuk ingin bisa kuliah. Mulailah kuwarnai sepulang sekolahku dengan mencari PELANGI BEASISWA melalui situs ajaib itu, Google. Beasiswa di PTN, PTS dari lembaga swasta maupun negeri ku libas habis sebagai referensi. Save as to flashdisk! Dan terus kupandang dan kuisi seluruh softcopy formulirnya di komputer manisku sesampai di rumah. Wah, paling tidak kata sebuah operator kita harus Xlangkah lebih maju! Karena tak mungkin juga aku bisa masuk kriteria diajukan sebagai calon mahasiswa berprestasi dari sekolah, jika nilai rapotku saja kocar-kacir seperti itu. Namun, lagi-lagi Allah memberi pertolongan! Jalan A tidak bisa, masih banyak jalan alternatif jika kita mau memanfaatkan momentum (kata trainer-trainer super duper).

Kutemukanlah berbagai beasiswa itu, dan kuajukan persyaratan untuk mendapatkannya. Mulai dari Beasiswa ITB untuk Semua, Beastudi Etos, dan Beasiswa Fellowship Universitas Paramadina. Selain itu juga Beasiswa Bidik Misi Unair, referensi dari seorang teman yang dengan berkobarnya mengajakku mendaftar karena bisa mendapatkan BMU (Bantuan Mengikuti Ujian) sehingga bisa gratisan jalan-jalan ke Surabaya, cita-cita sekalian mampir ke Jembatan Suramadu. Yah, cita-cita itu dimulai dari hal remeh “Aku ingin dapat BMU dan bisa plus2, yaitu jaan-jalan ke Jembatan Suramadu!”. Alhasil ketiga temanku pun memutuskan untuk tidak melanjutkan perjalanan hebat itu, karena kami tidak berhasil mendapat BMU. Tapi beruntung, berkat beberapa orang teman akhirnya aku dimudahkan untuk bisa pergi ke Surabaya, lagi-lagi karena Allah memberi pertolongan yang tak terkira datangnya.

Dimulailah perjuangan itu, sejarah besar yang akan membawaku kepada cita-cita yang kuyakini akan jauh lebih baik. Bukankah hanya diri kita yang mampu merubah nasip? Seperti dalam firman Allah bahwa tidak ada yang bisa merubah nasip suatu kaum melainkan kaum itu sendiri. Maka, tengoklah ke depan dan percayalah dengan janji Tuhanmu. Sedikit demi sedikit tapi pasti. Bercampur beraneka ragam kemalasan yang setiap hari tak mau berhenti menghampiri. Tidur.. Bangun, sampai kamar pun tidak lagi berbentuk layaknya sebuah kamar. Belajar dan belajar! Hanya untuk mempersiapkan moment terbesar ketiga setelah UNAS dan Ujian Praktek Kejuruan dalam tahun ketigaku di sekolah menengah, ya.. dialah Tes PMDK-Prestasi Universitas Airlangga. Karena telah kupatahkan cita-cita ku sebagai seorang IT Consultant, dan berniat untuk banting stir menjadi Konsultan Pendidikan. Belajar dari nol, karena sebagian besar mata pelajaran IPS yang diujikan tidak diajarkan di Sekolah Teknik.

Setiap hari, kujejali otak ku dengan beratus-ratus kata yang harus kuhafal. Belum lagi sebuah problem klasik, hari ini hafal besoknya lupa! Hari- hari yang kan kulalui hanya Antropologi, Sosiologi, Geografi, Ekonomi kawan-kawannya.

Tepat tanggal 11 April 2010, tes PMDK-Prestasi Unair dilaksanakan. Untuk pertama kalinya aku menginjakkan kaki di Universitas Airlangga. Dan disinilah kuyakini bahwa sejarah besar telah dimulai. Petualangan hebat yang tidak akan pernah terlupakan. Namun, optimisme yang semula telah terpupuk perlahan meleleh menjadi butir- butir pesimis, dan kecemasan. Karena mungkin tidak sampai 10% materi ujian yang kuasai untuk menempuh ujian masuk ini. Peserta PMDK-Prestasi yang semula hanya kuprediksi sekitar 500 orang, ternyata lebih dari 1000 orang. Keringat dingin mulai berjatuhan dari wajahku, panas dingin tidak menentu. Lagi-lagi hanya pertolongan dari-Nya-lah yang membuatku yakin.

Soal pun perlahan kubuka, "TIDAK ADA NILAI NEGATIF", ternyata benar tak ada nilai negatif apabila salah menjawab. Akhirnya satu demi satu soalpun ku lahap habis. Entah, benar ataukah tidak. Soal Matematika berjumlah 10 nomor, hanya bisa kukerjakan sebanyak 2 nomor saja. Pesimis itu kini lebih punya banyak energi, perlahan-lahan terus menguras rasa optimisku. Sampai akhirnya ada seorang teman yang berusaha menghibur, “Ingat ya An, kita ke sini untuk optimis diterima! Okay?” tegasnya. Dalam hati ku jawab “Ya ya, mungkin memang harus itu jawabanku!”

Ya.. Optimis untuk tetap menanti dan berusaha menerima apa yang ada dalam pengumuman penerimaan mahasiswa baru nanti, tanggal 14 April 2010. Jarak pengumuman yang hanya berkisar 3 hari dari waktu tes. Hari dimana masih ada Ujian Akhir Sekolah, konsentrasi belajarku pun terpecah karena rasa takut, ragu, dan pesimis yang bercampur. Perasaan yang sejak malam sudah mengusik waktu belajarku, pengumuman PMDK Prestasi Unair benar-benar mengusik.

Seusai ujian Wirausaha, kuberanikan diri untuk melihat pengumuman hasil seleksi di Internet sekolah. Khawatir, takut tidak lolos seleksi semua bercampur aduk membuatku sangat takut melihat pengumuman seleksi itu. Sejarah baru yang akan menuntunku dalam menggapai sebuah cita-cita. Klik Internet Browsernya... http://pmdk.unair.ac.id kupandangi perlahan, rasa takut itu tidak hilang malah semakin mempercepat irama jantungku. Seiring doaku berucap, tanganku bergerak dan mulai mengetik nomor peserta `220475`, Bissmillah.. Semoga apapun yang terjadi adalah yang terbaik. Aku pun beranjak dari depan monitor, takut sekali dengan pengumuman hasil seleksi itu.

"An,, kamu diterima di S1-Psikologi Unair diusulkan Beasiswa Bidik Misi" kata sahabatku sambil menangis haru. Aku pun tidak percaya dan bergegas melangkah menghampiri layar komputer. Tulisan sejarah itu, tulisan hebat dalam sepanjang sejarahku. Aku diterima di S1-Psikologi Unair. Sujud Syukur kupersembahkan pada-Nya.. Engkau kabulkan doaku, dan Engkau lihat usahaku. Karena cita-cita adalah visi yang harus diperjuangkan. Dan hanya kita yang bertanggungjawab atas hidup yang kita jalani! Karena hidup ini memang sebuah perjuangan untuk terus berproses menjadi yang terbaik. Lagi-lagi Engkau memberiku pertolongan yang tak terkira datangnya! Terima kasih ya Robb. Dalam heningku aku berdoa, “Semoga aku juga mendapat Beastudi Etos, meski hanya fasilitas asrama dan pembinaan saja yang diberikan padaku sehingga orangtuaku tak lagi khawatir akan kehidupanku di tanah rantau!”

Tiba-tiba, telepon genggamku berdering membuyarkan lamunanku, 1 pesan diterima. “An, aku belum diterima! Kamu gimana?” anganku melambung kepada sebuah kalimat yang dia ucapkan untuk membakar semangatku seusai ujian PMDK usai, “Ingat ya An, kita ke sini untuk optimis diterima! Okay?” Ya Robb... Engkau yang lebih tahu tentang apa yang terbaik bagi hamba-Mu, berikanlah setiap hamba-Mu arti sebuah kesabaran.

by Ana Yuliani
Surabaya, 17 Februari 2012

p1

Masuk PTN juga Butuh Perjuangan!


Tak pernah terbayangkan sebelumnya, bersusah payah dan berusaha meraih sesuatu yang semua orang pun menyepelekan usaha itu. Tidak percaya dengan kemampuanku yang serba pas-pasan ini! Bukankah sakit sekali rasanya? Ya beitulah, mimpi seorang siswa sekolah teknik yang bermimpi masuk Fakultas Psikologi. Namun, karena niat untuk bisa kuliah di tahun ini, maka semangat itu terus kusirami agar tetap bersemi bak bunga mawar mewangi sepanjang hari.

Karena, apa gunanya kawan mendengarkan ocehan mereka semua? Jika hal- hal yang diungkapkan oleh mereka hanya akan menjatuhkan diri ke lubang pesimis. Bukankah hanya diri kita yang mampu merubah nasip? Seperti dalam firman Allah bahwa tidak ada yang bisa merubah nasip suatu kaum melainkan kaum itu sendiri. Maka, tengoklah ke depan dan percayalah dengan janji Tuhanmu. Dimulailah usaha itu, sedikit demi sedikit tapi pasti. Bercampur beraneka ragam kemalasan yang setiap hari tak mau berhenti menghampiri. Tidur.. Bangun, sampai kamar pun tidak lagi berbentuk layaknya sebuah kamar. Belajar dan belajar! Hanya untuk mempersiapkan tes PMDK-Prestasi Universitas Airlangga. Karena telah kupatahkan cita-cita ku sebagai seorang IT Consultant, dan memilih untuk banting stir menjadi Konsultan Pendidikan. Belajar dari nol untuk tes, karena mata kuliah IPS yang diujikan sebagian besar tidak diajarkan di Sekolah Teknik.

Setiap hari, otak ku harus dijejali beratus- ratus kata yang harus kuhafal. Belum lagi dengan sebuah problem klasikku, hari ini hafal besoknya sudah lupa! Hari- hari yang kan kulalui hanya Antropologi, Sosiologi, Geografi, Ekonomi dan sebagainya.

Tepat tanggal 11 April 2010, tes PMDK-Prestasi Unair dilaksanakan. Untuk pertama kalinya aku menginjakkan kaki di Universitas Airlangga dengan naik kereta. Dan disinilah sejarah akan dimulai. Petualangan hebat yang tidak akan pernah terlupakan. Sampailah ke tanggal 11 April, keoptimisan yang sudah lama kupupuk perlahan meleleh menjadi butir- butir pesimis, dan kecemasan. Karena mungkin tidak sampai 10% materi yang aku kuasai untuk menempuh ujian masuk ini. Peserta PMDK-Prestasi yang semula hanya kuprediksi sekitar 500 orang, ternyata lebih dari 1000 orang. Keringat dingin mulai berjatuhan dari wajahku, panas dingin tidak menentu.

Soal pun perlahan kubuka, "TIDAK ADA NILAI NEGATIF", ternyata benar tak ada nilai negatif apabila salah menjawab. Akhirnya satu demi satu soalpun ku jawab. Entah, benar ataukah tidak. Soal Matematika berjumlah 10 nomor, hanya bisa kukerjakan sebanyak 2 nomor saja. Pesimis itu perlahan-lahan terus menguras rasa optimisku. Sampai akhirnya ada seorang teman yang berusaha menghibur, okay-lah aku harus optimis!

Ya.. Optimis untuk tetap menanti pada pengumuman penerimaan mahasiswa baru nanti, di tanggal 14 April 2010. Jarak pengumuman yang hanya berkisar 3 hari dari waktu tes. Hari dimana masih ada Ujian Akhir Sekolah, terpaksa konsentrasiku untuk belajarpun terpecah karena rasa takut, ragu, dan pesimis yang bercampur. Perasaan yang sejak malam sudah mengusik waktu belajarku, pengumuman PMDK Prestasi Unair benar-benar mengusik.

Seusai ujian Wirausaha, kuberanikan diri untuk melihat pengumuman hasil seleksi di Internet. Khawatir, takut tidak lolos seleksi semua bercampur aduk membuatku sangat takut melihat pengumuman seleksi itu. Sejarah baru yang akan menuntutku dalam menggapai sebuah cita-cita. Klik Internet Browsernya... http://pmdk.unair.ac.id kupandangi perlahan, rasa takut itu tidak hilang malah semakin mempercepat irama jantungku. Seiring doaku berucap, tanganku bergerak dan mulai mengetik nomor peserta `220475`, Bissmillah.. Semoga apapun yang terjadi adalah yang terbaik. Aku pun beranjak dari depan monitor, takut sekali dengan pengumuman hasil seleksi itu.

"An,, kamu diterima di S1-Psikologi Unair diusulkan Beasiswa Bidik Misi" kata sahabatku sambil menangis haru. Aku pun tidak percaya dan bergegas melangkah menghampiri layar komputer. Tulisan sejarah itu, tulisan hebat dalam sepanjang sejarahku. Aku diterima di S1-Psikologi Unair. Sujud Syukur kupersembahkan pada-Nya.. Ya Robb... Engkau yang lebih tahu tentang apa yang terbaik bagiku. Engkau kabulkan doaku, dan Engkau lihat usahaku. Karena cita-cita adalah visi yang harus diperjuangkan. Dan hanya kita yang bertanggungjawab atas hidup yang kita jalani! Karena hidup ini memang sebuah perjuangan untuk terus berproses menjadi yang terbaik.

"Bayangkan esok pagimu, semua akan memberimu selamat! Keluargamu, bapak ibu gurumu, teman- temanmu, dan aku!" Terima Kasih Ya Robb... Aku bisa KULIAH!!! J


by Ana Yuliani

Jogjakarta, 14 April 2010

p1

Kenapa Harus Kuliah? Sesi Dua

“Pengen kuliah?”
“Usaha dong!”

Jangan cuma duduk menanti hal yang belum pasti. Melamunkan hal yang bikin bingung. Ngikut teman karena gengsian. “Jangan dong ah!” Ayo kejar cita-citamu cuy, raih mimpi lanjutkan perjuangan sebagai pencari ilmu sejati!

“Habis lulus, mau kuliah dimana?” Hal yang sering dipertanyakan orang dan menduduki level teratas pertanyaan yang paling sering dilontarkan saat kita akan atau sudah lulus nanti Kawan. Kuliah diyakini menjadi salah satu kunci ampuh untuk menggapai kesuksesan di masa depan, baik secara finansial maupun sosial masyarakat. Terkadang gerah sendiri jika hal itu terlalu sering menjadi pertanyaan. Seperti reaksi alam yang terjadi berdasarkan suatu kejadian besar. Kayak tukang jual alat tulis kalau musim tahun ajaran baru. Kayak naeknya harga pensil 2B kalo dah seminggu sebelum UN. Benar-benar tidak bisa dihindari pertanyaan-pertanyaan itu.


Hmmm... benar- benar dilemma! Mau bilang mau Kuliah ke PTN A nyali tak sebesar itu, mau bilang Kerja di Perusahaan X nyali tak jarang menyapu habis pandangan itu! Emang aku bisa masuk PTN A? Emang aku pantes kerja di Perusahaan X?
Nah, kawan! Jangan sampai ya kita jawab “no comment mas/mbak!” Jangan!! Justru jawab dengan mantap dan berbangga hati Perguruan Tinggi mana yang jadi inceranmu, jurusan yang kamu minati. Jangan jawab kalo kita gak bisa, gak mampu, gak kuat mentalnya!! Aduh jangan dah. Agar keyakinan itu terbawa ke alam bawah sadar, sehingga membuat kita selalu termotivasi dari keyakinan tadi! Nah, dari situ akan timbul hubungan timbal balik antara lingkungan dan diri kita. Kita akan terpacu semangatnya karena sikap orang lain terhadap kita memang mendukung untuk melakukannya. Dan satu lagi, mungkin jawaban yang positif membuat orang yang bertanya turut mendoakan terkabulnya mimpi kita.
Yahh, kita bisa karena diri kita mengatakan bisa, sebaliknya kita lemah kalo diri kita mengatakan lemah. Ini bukan hipnotisme ato semacamnya, hanya memotivasi dan memberi sugesti (kayak Romy Rafael aja) positif ke dalam diri Kawan-kawan semua. Poin pertama kita yakin dulu! Sepakat?
Tapi tidak cukup hanya sampai diyakini saja perjuangan kita, masih panjang kaya gerbong kereta. Terkadang masalah yang lain berturut-turut muncul. Bagaimana bagi kita yang tergolong dalam masyarakat EMB alias ekonomi menengah ke bawah? Apakah kita bisa kuliah? Mengenyam pendidikan di perguruan tinggi? Ahh, seakan pungguk merindukan bulan kalo bicara soal kuliah.
Benar kah begitu??
Sebelumnya ada secuil kisah para perubah zaman lo!
“Eh, kok cuma secuil bang !”
“Lho, ada pepatah bilang : “secuil demi secuil lama-lama jadi segepok !” hehe
Percakapan di atas bukan termasuk dalam yang kita bahas teman. Permasalahannya bukan antara secuil ato segepok. Selanjutnya kita akan bahas seorang yang dapat juga kita jadikan inspirasi sekaligus motivasi yang walaupun cuma secuil tapi mudah-mudahan manfaatnya bisa bercuil-cuil sampe bergepok-gepok.

Sering kita dengar banyak tokoh-tokoh hebat di negeri ini berhasil menggapai cita-citanya meski dalam kondisi ekonomi yang terbatas. Pernah membaca novel Laskar Pelangi? Bukankah tokoh utama dari novel ini adalah seseorang dengan kondisi ekonomi terbatas namun memiliki keyakinan dan kemauan yang kuat untuk menggapai cita-citanya. Meski berasal dari pedalaman pulau Belitung, Ikal mampu melanjutkan kuliah di perguruan tinggi ternama di Indonesia dan mampu mendapat beasiswa di Eropa. Apa kalian percaya kawan bahwa sebenarnya kalian juga mampu? Bila keyakinan yang kuat dan usaha yang keras akan berbanding lurus dengan hasil. Dewasa ini banyak sekali penawaran untuk bisa melanjutkan kuliah secara gratis baik di perguruan tinggi negeri maupun di perguruan tinggi swasta. Dari pihak pemerintah ada beasiswa Bidik Mis, beasiswa Departemen Agama, dan lain-lain. Sedangkan dari pihak swasta, ada beasiswa politeknik Astra, Beasiswa penuh Universitas Paramadina, dan sebagainya. Bisa dicek berbagai situs info beasiswa, mulai dari beasiswa prestasi hingga yang non prestasi. Semuanya tinggal kita sendiri yang menentukan, karena kesuksesan adalah tanggungjawab diri kita.
Seperti halnya beberapa orang siswa, eh mantan siswa di sebuah sekolah teknik di kota pelajar. Mereka memiliki kemauan yang kuat untuk melanjutkan kuliah ke jenjang selanjutnya, namun karena penghasilan orang tua mereka yang hanya petani atau bahkan buruh sawah, maka sempat patah juga harapan itu. Tapi, dengan semangat dan kerja keras mereka dapat melanjutkan kuliah tanpa membebani orang tua. Bahkan beberapa saat ini, para mantan siswa teknik itu dapat membantu menambah penghasilan bagi orang tuanya di kampung. Bukankah luar biasa teman?

Pernahkah mendengar ayat Al Qura’an yang intinya begini “Allah tidak akan merubah nasip suatu kaum sampai mereka merubah nasip mereka sendiri!” kesuksesan saat ini dan masa depan adalah hasil jerih payah kita, yang mendapat dikehendaki oleh Allah. Jadi, ketika orang tua tidak mampu membiayai kuliah kita ke depan, setidaknya kita mampu dan mau mengusahakan masa depan kita untuk kesuksesan di masa depan.

Hhe, masih mau ngeluh atau nggak yakin selama belum mencoba? Jangan sampai lagi ya..
Kesuksesan itu bukan hanya bisa diraih oleh orang-orang kaya, itu biasa. Sedangkan yang luar biasa, ketika kita mampu merubah nasip kita dengan keyakinan dan kerja keras bahwa kita pasti bisa sukses tidak kalah dari orang kaya. Karena kesuksesan adalah hak segenap bangsa, begitu pula dengan pendidikan! Kita pasti bisa, kaya theme song Sea Games tahun ini “Ayo Indonesia bisa!”

Mulai sekarang tata rapi semua rencana masa depanmu. Benahi diri, siapkan amunisi, bidik yang kamu cari trus tembakkan peluru prestasi. Insya Allah kalian bisa!!^^

p1

Kita Bisa Maka Kita Benar-Benar Bisa

Kita Bisa Maka Kita Benar-Benar Bisa
“Pengen kuliah ?”
“Usaha dong !”
Jangan cuma duduk menanti hal yang belum pasti. Melamunkan hal yang bikin bingung. Ngikut teman karena gengsian. “Jangan dong ah !”
Ayo kejar cita-citamu cuy, raih mimpi lanjutkan perjuanganmu sebagai pencari ilmu sejati.

“Habis lulus, mau kuliah dimana?”
Hal yang sering dipertanyakan orang dan menduduki papan teratas pertanyaan yang paling sering dilontarkan kalau kita sudah lulus nanti Kawan. Kadang juga sering gerah sendiri kalau terlalu sering menjadi pertanyaan. Seperti reaksi alam yang terjadi berdasarkan suatu kejadian besar. Kayak tukang jual alat tulis kalau musim tahun ajaran baru. Kayak naeknya harga pensil 2B kalo dah seminggu sebelum UN. Benar-benar tidak bisa dihindari pertanyaan-pertanyaan itu. Tapi jangan jawab “no comment mas/mbak!” Jangan!! Justru jawab dengan mantap dan berbangga hati Perguruan Tinggi mana yang jadi inceranmu, jurusan yang kamu minati. Biar orang lain secara tidak langsung menilai diri kita ini memang bisa kesana, memang mampu dan akan menjadi salah satu lulusan terbaik. Nah, dari situ akan timbul hubungan timbal balik antara lingkungan dan diri kita. Kita akan terpacu semangatnya karena sikap orang lain terhadap kita memang mendukung untuk melakukannya. Optimis Kawan!!
Jangan jawab kalo kita gak bisa, gak mampu, gak kuat mentalnya!! Aduh jangan dah. Karena itu sama saja menurunkan derajat kita di mata orang lain bahwa sebenernya kita bisa dan mampu tapi orang lain akan menganggap kita remeh. So, jangan pernah katakan ‘tidak’, ‘belum’, ‘wah,mau langsung nikah aja’ buang jauh-jauh kalo perlu di kunci mati dipikiran kita, trus kuncinya dibuang ke laut. (hehe…)

Kita bisa karena diri kita mengatakan bisa, sebaliknya kita lemah kalo diri kita mengatakan lemah. Ini bukan hipnotisme ato semacamnya, hanya memotivasi dan memberi sugesti (kayak Romy Rafael aja) positif ke dalam diri Kawan-kawan semua. OK?
Mulai sekarang tata rapi semua rencana masa depan kamu. Benahi diri, siapkan amunisi, bidik yang kamu cari trus tembakkan peluru prestasi. Insya Allah kaliyan bisa!!^^

p1

Secuil Kisah Para Perubah Zaman

“Kok cuma secuil bang !”
“Lho, ada pepatah bilang : “secuil demi secuil lama-lama jadi segepok !”
Halo Kawan semua !
Percakapan diatas bukan termasuk dalam yang kita bahas teman. Permasalahannya bukan antara secuil ato segepok. Coba lihat dah judulnya, kita akan bahas cerita-cerita para perubah zaman yang walaupun cuma secuil tapi mudah-mudahan manfaatnya bisa bercuil-cuil sampe bergepok-gepok (lho knapa si cuil dan si gepok laris banget yak).

Franklin Delano Roosevelt
Pada usia 39 tahun, yakni tahun 1921 lelaki yang disebut oleh Oliver Wendell Holmes memiliki “kecerdasan kelas dua tetapi kematangan emosi kelas satu” ini terserang penyakit lumpuh hingga akhir hayatnya.
Anggapan banyak orang, kelumpuhan bisa membuat mereka patah semangat, karamnya cita-cita. Akan tetapi tidak membuat sosok yang satu ini menyerah dan berdiam diri, dia mempunyai visi yang sangat besar yaitu mewujudkan perdamaian dunia yang tengah berkecamuk dilanda PD I.“The show must go on!”
Begitulah yang selalu ia katakana, walaupun tertatih-tatih dan dengan bantuan kursi roda FDR tetap berjuang demi terwujudnya perdamaian sejati. Tahun 1932, ia dipilih sebagai presiden Amerika Serikat. Secara berturut-turut kembali dipilih 3 tahun berikutnya.
Dan salah satu bukti nyata keeksistensiannya di dunia dan tercatat dalam sejarah adalah ditandatanganinya Atlantic Charter tanggal 10 April 1945. Wow!!
Ternyata kelemahan dan kekurangan yang kita miliki bisa menjadi kekuatan yang luar biasa dalam hidup kita, jika kita memiliki semangat membara untuk mengejar cita-cita, mengubah hambatan jadi peluang, menembus keterpurukan dan terbang dengan segala kesuksesan bukan mustahil terjadi.

Jangan merasa diri kita lemah Kawan !!
Yuk lejitkan potensi raih prestasi.

p1

Dunia Memberikan Apa Yang Kita Fokuskan....!!

Bila anda memandang diri anda kecil, dunia akan tampak sempit, dan tindakan anda pun jadi kerdil
Namun bila anda memandang diri anda besar, dunia terlihat luas, anda pun melakukan hal-hal penting dan berharga.

Tindakan anda adalah cermin bagaimana anda melihat dunia. Sementara dunia anda tak lebih luas dari pikiran anda tentang diri anda sendiri. Itulah mengapa kita diajarkan untuk berprasangka positif pada diri sendiri, agar kita bisa melihat dunia lebih indah, dan bertindak selaras dengan kebaikan-kebaikan yang ada dalam pikiaran kita.Padahal dunia tidak butuh penilaian apa-apa dari kita. Ia menggemakan apa yang ingin kita dengar. Bila kita takut menghadapi dunia, sesungguhnya kita takut menghadapi diri kita sendiri.

Maka bukan soal apakah kita berprasangka positif atau negatif terhadap diri sendiri. Melampaui di atas itu, kita perlu jujur melihat diri sendiri apa adanya. Dan dunia pun menampakkan realitanya yang selama ini tersembunyi di balik penilaian-penilaian kita.

p1

Apa yang akan didapat?

Memiliki wawasan keilmuan yang lebih luas yang akan membentuk Pola Pikir (maindset) dalam diri Anda
Tak ada yang salah jika semua orang berpikir ingin hidup sukses, dan ingin menjadi orang sukses. Yang jadi masalah adalah apa yang harus kita lakukan untuk menggapai semua ingin itu, tentu tak dengan cara yang instan. Tentu dengan tahapan ilmu dan ketekunan. Lepas kuliah, seharusnya kita lebih terobsesi untuk bisa membangun lapangan kerja bukannya mencari lapangan kerja. Terobsesi untuk mengupahi, bukan diupahi. Dari sinilah, ilmu benar benar berfungsi sebagai bagian dari pengembangan untuk menuju cita- cita dan tak dijadikan target keharusan keberhasilan bagi orang lain. Maka pemikiran kita menjadi melebar pada hal yang lebih baik dan membentuk pribadi kreatif serta inovatif.

Memiliki sikap mental yang baik, karen dibekali keahlian teknis dan mental/ sikap

Pendidikan di luar kuliah, seperti : seminar, diskusi, berorganisasi, akan memberi banyak kontribusi dalam pembentukan sikap dan mental yang ada pada diri kita karena banyak berinteraksi secara langsung dengan realita kehidupan.
Memperoleh kepuasan yang tidak bisa diukur dengan materi
Menjalankan proses dari suatu system, hingga kita bisa menempuh predikat sarjana sesuai dengan disiplin ilmu yang ada.

Mendapat pekerjaan yang lebih baik dan karir yang lebih tinggi

Karena pekerjaan tentu lebih mengutamakan kontribusi pemikiran, ide- ide perbaikian produktivitas dari fisik yang dilakukan.

Memperoleh kecukupan keuangan
Dengan bekal ilmu dan kreativitas tersebut dapat mengetahui cara yang lebih efektif dan cepat dalam mendapatkan penghasilan. Aktualisasi di masayarakat Anda akan lebih dihargai masyarakat, bukan karena gelarnya. Tapi karena kepribadian yang Anda punya dan kemampuan yang dimiliki dalam menyelesaikan masalah- masalah yang terjadi di masyarakat.

Memiliki komunitas yang derajat ilmunya lebih tinggi atau sama dengan Anda

Di sini bukan untuk dijadikan sebuah kesombongan, tapi justru untuk mendapat wawasan yang lebih luas lagi.

p1